19 Desember 2007

MAHASISWA DAN PROBLEMATIKANYA

Mahasiswa dan Pengertiannya

mahasiswa akuntansiSecara empirik, mahasiswa telah mendorong berbagai perubahan diseluruh sendi kehidupan masyarakat, terutama dalam menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai kebutuhan jaman yang terus berpacu dengan tekhnologi. Sejarah juga tidak menafikan prestasi yang diraih dalam pembangunan fisik maupun mental masyarakat, berbagai perubahan yang digulirkan oleh mahasiswa telah mengantarkan kondisi sosial, politik dan ekonomi pada iklim peradaban yang lebih baik.

Dalam pengertian sehari-hari Mahasiswa adalah orang yang memperdalam keilmuannya di sebuah lembaga sekolah tinggi formal. Dalam perngertian awam, mahasiswa sering dianggap orang yang serba bisa, orang berpendidikan, dan memiliki intlektualitas yang tinggi, sehingga acap kali dijadikan rujukan dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi di masarakat awam. Persepsi tersebut tidak keseluruhan benar, karena meskipun mahasiswa adalah kaum intelektual secara obyektif, secara subyektif Mahasiswa memiliki kapasitas keilmuan yang terbatas sesuai bidang yang ditempuh di sekolah tinggi.

Namun demikian, Mahasiswa belum sepenuhnya dianggap belum mampu bersikap pragmatis, kritis dan inovatif dalam partisipasinya membangun intelektualitas masyarakat, bahkan masih banyak mahasiswa yang belum mampu melakukan kajian-kajian kritis secara ilmiah terhadap perkembangan social, budaya, politik dan ekonomi, baik intra maupun ekstra kampus. Hal ini didasarkan pada kenyataan-kenyatan yang ada, yakni rendahnya kegemaran membaca, menulis, berdiskusi dan mengikuti seminar atau kajian-kajian ilmiah lainnya. Bahkan tidak sedikit kita jumpai mahasiswa yang belum mampu memanifestasikan intelektualitasnya secara ilmiah baik dalam pembangunan mental pribadinya maupun kepada lingkungan sekitarnya.

Hal ini disebabkan beberapa factor, salah satunya adalah adanya tujuan-tujuan ketika mereka memutuskan untuk menjadi mahasiswa, ada yang bertujuan murni menghilagkan kebodohan dirinya sehingga dia datang, duduk manis yang kemudian pulang setelah dosennya menutup jam kuliahnya, kurangnya rangsangan akan pentingnya berorganisasi sehingga tidak terpupuk dalam dirinya jiwa militan untuk terus melakukan kajian-kajian kritis terhadap realitas kehidupan yang terus berkembang dan berubah, atau mungkin mereka kuliah hanya ingin mencari gelar, tilte atau ijazah demi kelangsungan kariernya, atau bahkan mencari jodoh semata dan ada juga kuliah karena takut dibilang pengangguran. Factor lain adalah kurangnya sarana dan prasarana atau fasilitas yang disediakan oleh pihak lembaga kurang representative dilihat dari segi perkembangan dan kemajuan sehingga mahasiswa tidak mampu berkompetensi di bidangnya.

Berangkat dari kenyataan tersebut maka dapat disimpulkan, tidak semua mahasiswa dapat diharapkan secara optimal. Namun bagaimanapun mahasiswa diharapkan dapat menempatkan dirinya pada posisi pembangunan sesuai dengan kemampuan atau keahlianya adalah sikap yang paling tepat dalam partisipasinya mengisi pembangunan.

Ruang Lingkup Mahasiswa

Aktivitas-aktivitas mahasiswa selain membaca, menulis, berdiskusi dan melakukan penelitian atau kajian-kajian ilmiah, mahasiswa juga berkewajiban mengabdikan diri pada masyarakat. Artinya aktivitas mahasiswa tidak terbatas pada lingkup kampus saja , namun lebih dari pada itu mahasiswa dituntut memanifestasikan dan mencurahkan intelektualnya kepada lingkungan masyarakat, sehingga dapat ditarik darinya manfa'at demi terselenggaranya pembangunan manusia seutuhnya dalam berbangsa dan bernegara dan terus melakukan pergerakan menuju arah perbaikan baik secara structural maupun cultural.

Organisasi dan Mahasiswa

Mahasiswa dan Organisasi adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan karena mahasiswa membutuhkan wadah untuk mengembangkan intelektualnya, menyalurkan ide dan aspirasinya, fasilitas dalam pergerakannya dan sarana dalam berinteraktif, berkomunikasi dengan komunitasnya dan masyarakat baik intra maupun ekstra kampus. Disini mahasiswa akan menuangkan segala pemikiran dan merealisasikannya sebagai proses pembelajaran intelektual dan keilmuan yang telah dimilikinya.

Organisasi tidak akan berfungsi dengan efektif tanpa adanya organisatoris yang meliki ide pemikiran-pemikiran brilian yang terus memperjuangkan kelangsungan hidup organisasi. Artinya Mahasiswa membutuhkan wadah atau sarana, Organisasi menjadi hidup dengan mahasiswa. Intinya semua saling membutuhkan baik organisasi yang akan dijalankan sesuai visi dan misi maupun mahasiswa itu sendiri yang menjalankan organisasi tersebut.

Lembaga dan Mahasiswa

Berdirinya lembaga-lembaga pendidikan di belahan dunia bertujuan mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga tercipta kedamaian, tegaknya keadilan dan terbebasnya manusia dari belenggu kebodohan yang membawa pada keterbelakangan. Pelayanan lembaga pendidikan terhadap masyarakat telah membawa perubahan tata nilai social dan budaya, cara berfikir, bertindak dan menyelesaikan probelamatika kehidupan lebih dewasa. Lembaga pendidikan telah terbukti mengantarkan manusia pada peradaban social yang lebih terhormat dan bermartabat.

Lembaga Pendidikan adalah fasilitas atau sarana belajar mengajar secara formal dalam pembangunan pendidikan mental, pengembangan kreatifitas keilmuan, melatih dan membimbing tata cara normatif bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, Lembaga dituntut untuk menyediakan fasilitas-fasilitas yang memadai dan representative sesuai dengan kebutuhan mahasiswa Kelengkapan fasilitas merupakan urgensi yang tidak bisa ditawar, melihat cepatnya kebutuhan masyarakat kampus yang terus berubah dan meningkat, contoh konkretnya adalah dosen yang profesional dan kompeten dibidagnya, karena dosen adalah fasilitas belajar yang menjadi rujukan utama para mahasiswa, selain itu perpustakaan kampus dan lab-lab penunjang lainnya.
Tanggung jawab sebagai penyelenggara perkuliahan sangatlah berat. Profesionalitas dan kebijakan menejemen pihak pengelola sangat mempengaruhi aktivitas dalam proses belajar mahasiswa baik secara langsung maupun tidak langsung,. hal ini disebabkan tingkat kedewasaan berfikir mahasiswa yang terus menuntut transparansi menejement pihak kampus (lembaga). Sinkronisasi kerja sama yang berkesenambungan serta konsistensi dalam memahami hak dan kewajiban antara lembaga dan mahasiswa akan membawa harmonisasi proses belajar dan mengajar di kampus yang bertujuan mencerdaskan mahasiswa dalam pembangunan mental berbangsa dan bernegara.

Peran dan Tanggung jawab Intelektual Mahasiswa

Dari uraian di atas jelas mahasiswa dituntut, PERTAMA, terus menerus mempelajari dan memperdalam keilmuan dalam rangka mengamalkan dan menjabarkan atau menterjemahkan nilai-nilainya agar dapat ditarik darinya manfa'at untuk disumbangkan kepada masyarakat yang terus berkembang, berubah dan meningkat kebutuhan-kebutuhannya. KEDUA, Mahasiswa juga dituntut bersikap kritis dan terus mengamati kenyataan-kenyataan social, peka terhadap kebutuhan lingkungan, meskipun hal ini mengandung konskuensi bahwa peran mahasiswa tidak terbatas pada perumusan masalah dan pengarah tujuan-tujuan, tetapi sekaligus memberikan contoh pelaksanaan serta sosialisasinya.

Peran dan tanggung jawab tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Bidang Sosial dan Budaya
Apa arti perubahan masyarakat (social change) yang terjadi dalam kehidupan kolektif kita? Apa yang harus dilestarikan, dan apa yang harus dibuang? Bagaimana prosesnya? Seorang pakar social dan budaya pada masa kerajaan maja pahit yaitu Empu Tantular dengan konsep Bhineka Tunggal Ika telah memberikan respond pluaralitas social dan cultural. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta mengakui eksistensi dan identitas pihak-pihak lain merupakan sarat mutlak demi menciptakan harmonisasi social. Di sini para intelektual diharapkan dapat menjadi control social dan berpartisipasi dalam memelihara kebudayaan bangsa juga menjadi filter masuknya budaya-budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.

Di sini Mahasiswa dituntut mampu menjelaskan dan menterjemahkan bahwa keragaman social dan budaya bukan berarti perpecahan yang mengarah pada terciptannya sekte-sekte cultural dan mementingkan golongan. Artinya mahasiswa harus terjun secara langsung berbaur dengan masyarakat tanpa melihat latar belakang social dan budaya, mengenal dan memahami keinginan tradisionalisme yang diinginkan, serta mengarahkan pada pada budaya social yang sesuai dengan kepribadian bangsa yaitu melestarikan yang baik dan mengambil yang lebih baik.

2. Bidang Politik.
Stabilitas politik nasional merupakan urgensi yang mutlak didambakan oleh seluruh masyarakat. Dengan ini, mahasiswa dituntut oleh kemampuan ilmiahnya untuk menciptakan stabilitas politik, memeliharanya serta menanggulangi problem-problem politik yang dapat mengeruhkan stabilitas tersebut.

3. Bidang Ekonomi.
Bidang ini memerlukan usaha pengembangan ekonomi yang adil dan merata secara konseptual maupun actual, sehingga dapat dirasakan oleh semua pihak. Bidang ini menuntut mahasiswa memikirkan dan mengusahakan penjabaran ide-ide kebijakan ekonomi agar terlepas dari kejahatan-kejahatan ekonomi yang hanya memperkaya kelompok atau perorangan. Selain daripada itu mahasiswa juga dituntut mampu mengembangkan sumberdaya manusia, memfasilitasi masyarakat menuju kemandirian dengan terus menanamkam jiwa-jiwa interprenuership.

Bagaimana Mahasiswa diterima Masyarakat.

Masyarakat telah memiliki pemikiran tentang kedudukan mahasiswa dalam stratifikasi social dan mengambil kebijaksanaan sendiri dalam menilai mahasiswa. Mobilitas social dan budaya oleh mahasiswa menjadikan responsive masyarakat sangat positif. Permasalahannya sekarang adalah bagaiman mahasiswa diterjemahkan? dan bagaimana mahasiswa menterjemahkan pribadinya sebagai anggota masyarakat?

Secara umum keberadaan mahasiswa mendapatkan respon positif, mobilisasi dan control pembangunan menjadikan kredilbilitas mahasiswa sangat populis di tengah-tengah pembangunan fisik maupun mental. Kegiatan yang bersifat partisipatif harus sesuai dengan kebutuhan dan tidak melawan arus social dan budaya masarakat, upaya untuk mengoptimalisasikan sumber daya dan menggali potensi masyarakat adalah dengan mengusahakan keseimbangan cultural semaksimal mungkin. Mahasiswa harus senantiasa mendampingi masyarakat dan menanamkan nilai-nilai normative sebagai insane yang berpendidikan dan hidup di tengah masyarakat sudah semestinya mahasiswa dapat memberikan kemaslahatan bukan kemudlaratan atau memprofokasi kearah yang konfrontatif dengan kebudayaan bangsa.

Memahasiswakan Mahasiswa

Mahasiswa juga manusia yang membutuhkan perhatian. Tanpa mengurangi nilai-nilai kemanusiaan dalam hak dan kewajibannya baik intra maupun ekstra kampus. Bentuk perhatian tersebut yaitu dengan memberikan penilaian yang sesuai artinya hak berbicara dan tidak menutup dialogh dengan mahasiwa mengenai berbagai kebijakan secara umum yang berhubungan dengan tata nilai social, budaya, politik dan ekonomi.

Dalam hubungannya dengan pihak kampus, mahasiswa dan pihak lembaga diharapkan membuka dialogh dalam mengambil kebijakan menejement kelembagaan demi terciptanya keharmonisan dan kenyamanan dalam kelangsungan proses belajar mengajar. Kalau kita bisa flasback lagi dalam pengertiannya apasih yang dinamakan mahasiswa? Apakah anda sudah merasa kita menjadi mahasiswa yang sebenar-benarnya mahasiswa?

Tentunya banyak sekali opini-opini yang akan diperoleh dari pertanyaan diatas baik opini yang positif yang dapat membangun intelektual mahasiswa maupun opini negatif yang mungkin setidaknya dapat menjadi cambuk bagi mahasiswa untuk membenahii dirinya sendiri.
Oleh : Huzaini Muddin (Mahasiswa AAk Jember Tahun 2006)

Poskan Komentar